Timbul Raharjo

Seniman, Budayawan, Aktivis Lingkungan, Staf Pengajar Seni Budaya

Slide 1

Seni Rupa Kontemporer

Kata Wassily Kandinsky, ketika menyebut depose untuk kecantikan batin adalah semangat keinginan dan kebutuhan spiritual merupakan aspek sentral dalam seni. Meskipun untuk memuja seni abstrak, namun maknanya memberi pemahaman mendalam atas gaya seni sampai saat ini. Refleksi bentuk dan warna pada wujud karya seni, menghasilkan sebuah pemahaman. Mata merupakan alat perekam utama yang baik, hangat, tenang, dan bahkan dingin. Sensasi optic itu bersifat sementara ketika transfer artistic menggetarkan reaksi memori yang diamini diseluruh tubuh. Maka, itu hanyalah sebuah superficial dari efek karakter karya seni, terkadang tidak meninggalkan kesan abadi, namun sensasi-sensasi terpatri dalam jiwanya. Nyatalah sensasi itu muncul dari karya seniman yang kreatif berkarakter, bercap, maupun berjulukan. Termasuk menelaahan terhadap perubahan zaman yang makin suntuk dengan berbagai persoalan atas perubahan modernisasi, tak pelak menjadi bahan kreatifitas itu, seperti pada perkembangan seni kontemporer yang banyak berbicara tentang kekinian. Adalah sebuah persepsi budaya menyeluruh terhadap pola pikir budaya yang pro terhadap kecenderungan keberagaman yang mutlak mendorong pluralism, muncul berbagai aliran seni yang merespon terhadap seni modern menumbuhkan seni kontenporer yang bahkan lebih modern. Praktik seni kontemporer kemudian termaknakan sebagai dihilangkannya berbagai kecenderungan artistic yang ditandai dengan makin abu-abunya batas antar disiplin seni. Oleh karenanya, intervensi disiplin ilmu sains dan social dicetuskan sebagai pengetahuan popular atau mamanfaatkan teknologi mutakhir itu. Bahkan presentasi seni kontemporer lepas dari sekat ruang dan waktu. Universalitas dalam seni kontemporer menunjukan ragam sentuhan seni, bahkan melebihi gaya-gaya modern seperti pop art dan seni konseptual. Penggalian konsepsi berkarya dengan karakter nyleneh sebagai upaya strategi propaganda, yakni seperti dorongan oleh isu-isu social, penyakit masyarakat, minoritas, homoseksualitas, aid, teroris, feminimesme, perang, korupsi, politik busuk, global warming, dan lain sebagainya. Eksplorasinya berkecenderungan mengkombinasi berbagai equipment dan material, seperti memanfaatkan teknologi madern, seni media atau seni digital sebagai penyemangat eksplanasinya. Bahkan penciptaan karya lukis, patung, dan kriya banyak dijumpai berinstalasi dalam penyajiannya. Hal ini sebagai upaya penguasaan ruang saji, efek dramatisasi, adaptasi materi, dan inovasi dari sebuah projek seni.

Artwork strengthens Yogyakarta identity as city of culture (jakarta post)

Yogyakarta Governor Sri Sultan Hamengkubuwono X said that the works of art displayed in open spaces in Yogyakarta had helped strengthened the image of the ancient town as a city of culture. “I give my high appreciation to the artists who have helped strengthened the image of Yogyakarta as a city of culture,” Hamengkubuwono said in his remarks at the opening of the Yogyakarta Art Festival on Wednesday afternoon. The sultan said the artwork represented the character of Yogyakarta and had become a marker of the city. “Many tourists visiting Yogyakarta manage their time to take pictures with the artwork,” he said. As many as 22 statues of different forms and sizes are being displayed in different corners along Jl. Malioboro as parts of the festival’s exhibition entitled “Malioboro Outdoor Visual Art”. Among other works is a becak (pedicab) sculpture by noted artist Nasirun that was created using a kinetic sculpture technique. Exactly the same size of a real becak, the work is entitled “Becakku Tak Berhenti Lama” (My becak does not stop long). The sultan also said that art did not only show beauty but also preserved the conscience of Yogyakarta’s residents. A piece of art with a concept, according to him, could have a dialogue with the community and could even help settle differences or conflicts. He added that the decrease in the nation’s morality these days was the result of the fact that many of the country’s elites did not appreciate the arts. In an artistic environment, he said, people would not just learn about the art but also learn about the problems of life. “When we are in a theater environment, we learn about problems around us. When we study literature, we train ourselves to be sensitive toward humanity’s problems,” Hamengkubuwono said. The sultan hoped that the Yogyakarta Art Festival would enhance Yogyakarta’s dynamics as a civilized city. Through art, he said, Yogyakarta was expected to grow as a city that was removed from the violence that had marred different regions throughout the archipelago. Separately, the chairman of the festival’s organizing committee, Timbul Raharjo, said that this year’s celebration was different in the sense that it was organized by a committee primarily comprised of young people. He expressed hope that the annual event could be used as a standard for the development of the arts in the city. He also called on the government to pay attention to the event because it represented the city’s special character. With “Art for the People” as its central theme, the festival is scheduled to last until July 5. The theme, according to Timbul, was chosen because traditional arts like puppet shows, batik and kris could provide livelihoods for the people. Timbul said the artwork presented during the festival was a mixture between contemporary and traditional arts. “But the focus is still on traditional art,” he said.

Dampak Krisis Global Seni Kerajinan

Dampak Krisis Global Seni Kerajinan Bentangan harapan untuk menggapai kesejehteraan masa kini begitu kelabu, tahun 2008-2009 merupakan situasi yang jauh dari harapan. Harapan akan pulihnya krisis global pada pertengahan 2009 dirasa makin sempit. Seni kerajian menjadi tertekan manakala gegeran wacana publik tentang dibatalkannya pameran Madrid Fair 2009 di Spanyol yang konon kabarnya memang nyata. Pada hal sejak pertengahan 2004 Spanyol sebagai salah satu tujuan ekspor seni kerajinan dari Yogyakarta, sehingga pada tahun 2005 mampu menyaingi importer dari negara-negara eropa lainnya. Sunggur fantastis nilai ekspor yang ditunjukan pada ritme pembelanjaan seni kerajinan yang mencapai 3000 USD. Namun apa dikata kesedian ini tetap muncul sebagai komodite publik yang diwacanakan oleh para pembawa berita. Tetapi apakah benar kondisi dan situasi dunia demikian, jangan-jangan hanya betul pembawa berita itu hanya ingin meraup keuntungan disaat krisis itu. La...wong Amerika sebagai penyebab krisis dan telah disuntik dana yang mencapai 700 biliun USD kok belum bangun ya, sentimen publik atas fluktuasi moneter juga masih kacau, para tamu yang datang ke Yogyakarta juga agak enggan membeli produk yang sembarangan, mereka begitu selektif dan benar-benar perhitungan atas barang kerajinan yang diberinya. Tetapi yang aneh adalah terjadinya penurunan pada tingkat wholesaler ternyata berbanding terbalik dengan retailer. Banyak pembeli besar yang menurun sementara pembeli yang kecil justru terjadi peningkatan. Ada saran untuk menggali pasar lokal, namun biaya pengiriman ke Batam saja dua kali lebih mahal jika kita bandingkan dengan mengirim ke Australia......hehe aneh ya.

Seni Untuk Rakyat Ala FKY 2012

Tiga ekor gajah yang dihias corak batik ikut berpawai. Berada di barisan paling depan, koleksi Kebun Binatang Gembira Loka ini sontak menyedot perhatian masyarakat yang sedang berada di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Ketiganya bahkan sempat melakukan penghormatan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta tamu undangan yang hadir saat itu. Instalasi “Thingker” karya Timbul Raharjo. Tampil di kawasan Titik Nol, Yogyakarta selama Festival Kesenian Yogyakarta 2012 berlangsung. Berada di ruang publik, membuat karya seni dapat dinikmati kalangan masyarakat luas. Rabu, 20 Juni lalu Pawai Seni Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XXIV 2012 dimulai dari depan Gedung DPRD Provinsi DIY menuju Alun-Alun Utara Yogyakarta. Ada 23 peserta pawai yang atraktif melakukan aksinya. Kontingen Kabupaten Bantul yang diwakili Sanggar Orang Kampung Srandakan, Bantul misalnya menampilkan kesenian reog dan wayang. Lalu ada aksi tari topeng gecul, aksi barongsai dari Batalyon 403, hingga penampilan putri-putri dari Red Batik Solo dengan kostum karnavalnya yang unik. Tak ketinggalan, aksi marching band calon perwira dirgantara dari Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta. Ketangkasan memainkan drum serta kekompakan membentuk formasi diperlihatkan para taruna yang mengenakan kostum penerbang. Ajang atraksi dan pawai ini sekaligus merupakan salam perpisahan dari 170 taruna (karbol) yang telah menyelesaikan pendidikannya. Selanjutnya, mereka akan ditugaskan dan tersebar di satuan penerbangan Angkatan Udara di Indonesia

Timbul Raharjo Art Studio is located in Yogyakarta, Indonesia